Paitua Socratez Yoman

Ralat: yang benar = Rakyat Papua, Bangsa Papua, Negara West Papua

Oleh Dr. Socratez Sofyan Yoman

Para pembaca artikel ini bila pernah nonton Kick Andy Show di Metro TV pada 17 Januari 2007, topik ini akan mengingatkan Anda kembali.

Andy Noya bertanya kepada saya. “Pak Socratez, bagaimana sikap Anda ketika buku Anda dilarang oleh Kejaksaan?

Saya tanya balik pak Andy.
“Siapa Kejaksaan itu?

Noya: “Kejaksaan di tempat Anda, di Papua?

Saya bilang.

“Dia (Kejaksaan) itu bukan orang Papua. Buku itu ditulis tentang orang Papua dan orang Papua yang boleh melarangnya.

Noya: Anda ini melawan dan tidak patuh pada Negara?

Saya jawab. “Saya tidak bisa dipaksakan untuk akui ini dan akui itu. Saya harus percaya Tuhan dan menghargai martabat manusia. Kalau bangsa ini membantai rakyat, mengusur rumah rakyat kecil, ini negara model apa?

Latar belakang diundang berbicara di Kick Andy Show karena buku saya yang berjudul: Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat (2007) dan empat teman penulis yang dilarang termasuk bukunya pak Boni Hargens dan juga Ibu Rhoma Dwi Aria. Kami ada lima orang yang berbicara di depan hampir
700-800 orang peserta.

Ini pesan iman dan moral yang rindu saya sampaikan kepada para pembaca, terutama rakyat dan bangsa West Papua adalah kita kerjakan dan kejar yang dilarang oleh pemerintah Firaun Moderen Indonesia di West Papua.

Kita harus kejar dan bertanya. dan mendapatkan jawaban yang pasti mengapa buku Pemusnahan Etnis dilarang dalam peredaran di wilayah publik? Apa yang disembunyikan di West Papua? Apakah pemerintahan Firaun Moderen Indonesia takut segala borok-boroknya dibongkar ke publik?

Ketika pemerintah Firaun Moderen Indonesia melarang buku saya & saya lebih termotovasi dan lebih bergairah serta semangat untuk menulis buku-buku tentang sejarah rakyat & bangsa West Papua.

Akhirnyan, saya mendapat jawaban yg terang dalam banyak hal yang tidak
[27/8 7:57 PM] Socratez Yoman: benar dan tidak beres yang dilakukan pemerintah Firaun Moderen Indonesia terhadap rakyat dan bangsa West Papua.

Saya sudah tahu, karena saya sudah belajar dan karena saya sudah mengerti, saya sudah mengetahui kekejaman dan kejahatan negara ini.

Karena itu, saya sudah kembali menemukan kedaulatan dan kemerdekaan penuh yang pernah dinikmati oleh leluhur, nenek moyang dan orang tua saya sebelum pemerintah Firaun Moderen Indonesia menduduki dan menjajah sebagai koloni baru di wilayah West Papua dari Sorong-Merauke.

Artinya, saya telah menemukan dignity saya dan berdiri teguh sebagai orang merdeka dan berdaulat di atas tanah leluhur saya. Saya konsisten berjalan tegak dan lurus dan tegas menentang orang-orang yang tidak berhak menikmati Sumber Daya Alam saya.

Saya melawan bangsa perusak. Bangsa pembunuh. Bangsa pencuri. Bangsa perampok. Bangsa penipu. Bangsa tukang bersilat lidah. Bangsa yang tidak tahu diri. Bangsa berbudaya kekerasan dan kekejaman. Bangsa yang di atas kertas lain, bicara lain dan tindakan lain.

Jadi, bangsa ini tidak punya hak untuk melarang saya. Mereka tidak punya hak di atas negeri dan tanah West Papua.

Apakah mereka akan mempertahankan West Papua dari Sorong-Merauke dengan moncong senjata? Kapal perang? Pesawat tempur? Kekuatan undang-undang dan peratutan2?

Apakah mereka mempertahankan West Papua dengan mendatangkan orang-orang Indonesia dalam jumlah yang besar setiap hari dengan pesawat dan kapal putih?

Apkah mempertahankan West Papua dengan memperbanyak pemekaran kabapaten dan provinsi yang akan diduduki oleh orang-orang Indonesia dengan menyingkirkan dan memusnahkan Penduduk Asli West Papua?

Apakah pemerintah Firaun Moderen Indonesia menghabiskan dan memusnahkan rakyat dan bangsa West Papua dengan mengijinkan untuk perang bersaudara seperti di kabupaten Puncak Jaya?

Saya mau sampaikan kepada pemerintah Firaun Moderen Indonesia, semuanya itu menurut Anda, Anda berada dipuncak kekuasaan, kemewahan dan kemenangan
[27/8 7:58 PM] Socratez Yoman: tetapi sesungguhnya Anda berada dalam puncak kekalahan dan keruntuhan di atas tanah dan negeri West Papua.

Apakah Anda tidak senang dengan tulisan saya yang tegas, tegak lurus dan terkesan kasar dan keras ini? Atas dasar apa Anda marah dan tidak senang dengan kritik ini? Apakah Anda mau membatasi saya supaya tidak bicara kebenaran-kebenaran? Apakah Anda mau larang saya supaya saya bicara sopan-sopan tapi tidak tulus dengan kepura-puraan dan jadi manusia munafik??

Jadi kesimpulannya, yang pasti dan jelas: Saya mau katakan kepada Pemerintah Firaun Moderen Indonesia di tanah leluhurku dan tanah pusakku ini, saya akan berhenti menulis dan berbicara kalau saya diminta dan dilarang oleh rakyat dan bangsa West Papua.

Kalau sepanjang dan sejauh rakyat dan bangsa West Papua belum melarang dan menghentikan saya bersuara, saya tetap menjadi suara mereka. Saya menjadi corong mereka. Saya menjadi cahaya lilin kecil mereka. Saya menjadi sahabat dan saudara mereka yang berjuang mendari keadilan dan perdamaian serta masa depan yang lebih manusiawi & bermartabat.

Saya bertanya kepada rakyat Rakyat dan bangsa West Papua, apakah saya harus dan terus berbicara tegas, tegak lurus dan tidak bengkok?

Ataukah saya harus berbicara bengkok dengan mencari tempat aman dan berpura-pura berjuang dialog damai tapi kaburkan akar persoalan rakyat dan bangsa West Papua?

Tanpa restu kalian juga saya terus bicara tegak lurus, dan tegas untuk Anda domba-domba Allah dan warga Gereja yang tertindas dan menderita selama ini.

Intinnya saya akan diam dan berhenti berbicara kalau TUHAN yang melarang saya dan juga rakyat dan bangsa West Papua pemilik Negeri ini yang melarang saya.

Selamat menikmati tulisan yang tegak lurus dan tegas ini. Terima kasih.

Ita Wakhu Purom, Minggu, 27 Agustus 2017

Kalau tidak setuju, protes lewat HP: +62-8124888458. Email: socratezyoman_90@hotmail.com

Socratez Yoman: West Papua: Yang Berhak Melarang Saya Hanya Rakyat dan Bangsa West Papua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *