Oleh Dr. Socratez Sofyan Yoman

Belakangan ini, Pemerintah Indonesia untuk mempertahankan West Papua dalam wilayah Indonesia pada tingkat yang sangat kritis dan diujung tanduk. Karena benua (Pulau) West Papua dicangkokkan ke dalam wilayah Indonesia dengan cara yang tidak benar dan kejam.

Pemeliharaan hasil cangkokkan juga dengan cara-cara biadab, kejam, kriminal dan pembohongan dan merendahkan martabat manusia.

Contoh terbaru: Kasus Deiyai, Paniai seorang manusia ditembak mati dan pelakunya hanya dihukum dengan Permintaan MAAF. Orang kriminal, penjahat, pembunuh manusia gambar Allah dihukum dengan permintaan maaf. Sungguh dan benar, selama ini saya mengatakan: Pemerintah Firaun Moderen Indonesia menduduki dan menjajah, menindas dan membantai umat Tuhan.

Rakyat dan bangsa West Papua telah kehilangan kepercayaan pada Pemerintah Firaun Moderen Indonesia. Karena tidak ada harapan masa depan kami ( West Papua).

Beberapa hari lalu saya telah tulis tentang Pdt. Elisa Tabuni ditembak mati oleh Kopassus di Puncak Jaya pada 16 Agustus 2004 tapi pembunuh tidak dihukum. Pembunuh Kelly Kwalik tidak dihukum. Pembunuh Yustinus tidak dihukum. Pemubunuh Opinus Tabuni tidak dihukum. Pembunuh Mako Tabuni tidak dihukum. Pembunuh Yawan Wayeni tidak dihukum. Pembunuh 4 siswa pada 8 Desember 2014 di Paniai tidak dihukum. Para pembunuh rakyat sipil di West Papua tidak dihukum.

Pemerintah Firaun Moderen Indonesia dengan aparat keamanannya adalah para kriminal dan pembunuh. Musuh kemanusiaan. Musuh keadilan dan kebenaran. Musuh kedamaian dan harmoni.

Perilaku dan tindakan mereka sudah diluar batas-batas nilai kemanusiaan. Kejahatan mereka sudah sama dengan kejahatan Iblis/Setan. Tidak ada nilai standar moral dalam bangsa dan negara yang namanya Indonesia.

Filosofi Negara, Pancasila yang memuat lima nilai luhur tidak satupun dinikmati oleh rakyat dan bangsa West Papua.
[1/9 10:46 AM] Socratez Yoman: Sila Ketuhanan yang maha esa telah berubah nilai di West Papua menjadi Keiblisan yang maha kejam dan kriminal.

Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab di West Papua telah berubah wajahnya Ketidakmanusiawian dan yang tidak adil dan biadab.

Sila Persatuan Indonesia di West Papua telah bergeser Perpisahan West Papua dengan Indonesia semakin ada tanda-tanda. Itu membuat para diplomat Indonesia membawa uang rakyat Indonesia keliling dunia untuk menyuap para pendukung West Papua Merdeka.

Rakyat Indonesia banyak pengemis dan tidur dibawah jembatan toll. Pak Indonesia urus rakyatmu yang miskin. Jangan sibuk dengan rakyat dan bangsa West Papua bisa hidup tanpa Indonesia. Rakyat dan bangsa West Papua pernah hidup tanpa Indonesia.

Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan….telah kehilangan hikmat dan yang ada hanya hati dan pikiran yang jahat.

Sila Keadilan sosial bagi rakyat Indonesia..telah berubah arah di West Papua adalah ketidakadilan, kekejaman, kejahatan dan kriminal.

Bagi rakyat dan bangsa West Papua, tidak ada yang harus dibanggakan dalam Indonesia.

Tapi dengan jujur saja, terima kasih untuk Indonesia yang mengajarkan kami bahasa Indonesia. Bahasa ini dapat mempersatukan rakyat dan bangsa West Papua dari Sorong-Merauke dalam dinamika berbagai suku dan bahasa yang berbeda 250 suku dan bahasa sebagai pemilik benua West Papua.

Pembangunan Infrastruktur, kesejahteraan, dialog sektoral, pendekatan kultural bukan obat yang tepat. Pembangunan fisik adalh urusan dan tanggungjawab pemerintah.

Yang jelas dan pasti: Tuntutan/Perjuangan West Papua Merdeka, Referendum, ULMWP tidak turun dari langit. Dia tidak hadir dengan tiba-tiba. Dia lahir dalam proses dan dinamika yang panjang.

Selamat membaca dan berdiskusi dengan tulisan yang tegak lurus, tegas dan tidak ada kepura-puraan dan kemunafikan ini. Saya berdoa supaya tulisan ini menjadi berkat dan bukan sebaliknya.

Ita Wakhu Purom, West Papua, 1 September 2017

Waa…kinonak nowe nawor.

Sumber: https://web.facebook.com/ 

Socratez Yoman: West Papua: Pemerintah Indonesia Berwatak Kriminal dan Brutal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *