Sentani, Jubi – Sebanyak 50 sempe (gerabah) papeda habis disantap pengunjung festival makan papeda, yang baru pertama kali digelar di kampung Abar distrik Ebungfauw kabupaten Jayapura.

Festival makan papeda kali ini bertema Helay mbay, Hote mbay, yang digagas masyarakat di kampung tersebut dengan tujuan mengembalikan rasa memiliki dan mencintai benda-benda budaya seperti sempe (gerabah) yang dahulunya digunakan sebagai tempat atau wadah untuk menyediakan papeda, yang kemudian dimakan bersama-sama.

Kepala suku kampung Abar, Naftali Felle, mengatakan benda-benda budaya seperti gerabah hanya satu-satunya bisa ditemukan di kampungnya. Tujuan pelaksanaan festival makan papeda adalah untuk mencegah pengaruh budaya luar terhadap penggunaan sempe yang adalah benda budaya di danau Sentani.

“Generasi sekarang kalo menyajian papeda sudah tidak lagi menggunakan gerabah atau sempe. Benda budaya ini sudah digantikan baskom. Untuk itu festival ini dilaksanakan agar masyarakat juga mengetahui kalau sempe adalah tempat sesungguhnya untuk penyajikan papeda,” jelas Naftali, saat ditemui di kampung Abar, Sabtu (30/9/2017).

Festival yang dilakukan ini akan menjadi kalender tahunan setiap tanggal 30 September, meski hingga kini belum ada dukungan dari pihak-pihak terkait termasuk Pemkab Jayapura.

Naftali menjelaskan festival makan papeda tahun ini menyediakan 50 sempepapeda dan ratusan ikan danau seperti gabus dan mujair. Semua makanan ini disiapkan masyarakat di kampung Abar.

“Tahun depan kita akan menaikkan menjadi 150 sempe yang dimakan di pondok makan yang dibangun sepanjang 50 meter. Bahan baku makanan asli ini tidak kami beli di pasar tetapi asli dari sumber daya alam yang kita punya. Baik itu sagu dan ikan. Tahun depan kita berharap ada partisipasi masyarakat juga dalam ajang budaya seperti ini,” ujarnya.

Festival makan papeda di kampung Abar tidak hanya dikunjungi masyarakat asli Sentani yang mendiami pesisir danau tetapi juga penduduk kampung tersebut yang berasal dari daerah lain seperti Jawa, Makassar, dan Ambon. Bahkan ada pengunjung dari mancanegara turut berpartisipasi dalam ajang makan papeda sehari dan gratis itu.

“Senang juga ikut terlibat dalam makan papeda dan ikan secara massal di kampung Abar. Ini pertama kali bagi saya setelah dua minggu menginjak kaki disini. Terlihat ada kebersamaan dan kekompakan ketika papeda dihidangkan dalam satu helay dan ikannya satu hote dan dimakan secara bersama-sama. Sebenarnya ini adalah gambaran hidup manusia yang harus dilakukan dalam aktifitas kesehariannya tanpa membedakan satu dengan lainnya. Senang bisa ada di kampung Abar yang telah mengajarkan prinsip hidup dalam kebersamaan. Ada hasil yang didapat setelah makan papeda sampai habis dalam sempe ini. Saya diberikan satu sempe ini untuk dibawah pulang. Terima kasih masyarakat kampung Abar yang sudah menjaga dan melestarikan budayanya dengan baik. Biarlah ini menjadi inspirasi kita masyarakat Indonesia,” ungkap Pujiastuti, warga asal Tegal, Jawa tengah. (*)

Festival makan papeda, 50 sempe langsung ludes
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *