Penulis : Abeth Abraham You | Kamis, 27 Agustus 2015 20:26

Jayapura, MAJALAH SELANGKAH — Penyakit jantung, pembuluh darah, stroke dan paru merupakan beberapa penyakit tidak menular (non transmitted disease) yang insidensinya sangat tinggi di dunia. Prevalensi kasusnya pertahun semakin meningkat di negara maju hingga di negara-negara berkembang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mencatat bahwa setiap tahun mencapai 30% kematian oleh karena penyakit jantung.

Benyamin Lagowan, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (FK Uncen) Jayapura, Papua, mengatakan, tahun 2005 terdapat 7,6 juta jiwa yang melayang akibat serangan jantung (Heart Attack), sedangkan pada tahun yang sama invasi stroke merengut 70 juta orang di dunia.

“Sebagai contoh, di Provinsi Papua berdasarkan data Dinkes Papua per Desember 2014-Juni 2015 terdapat beberapa kasus yang telah didata yang meliputi penyakit jantung sebanyak 101 kasus, stroke sebanyak 54 kasus dan hipertensi sebanyak 291 kasus. Ini kasus-kasus yang telah didata oleh beberapa Rumah Sakit, tidak termasuk yang belum terdata,” ungkap Benyamin Lagowan kepada wartawan di Abepura, Jayapura, Rabu (26/8/2015).

Ia mengungkapkan, dari jumlah kasus ini belum dapat diidentifikasi kelompok suku mana yang lebih mendominasi, apakah Papua atau Non Papua karena merupakan data hasil olahan bukan data mentah.

“Jika kita melihat secara lebih jauh dengan kacamata realitas, maka kemungkinan terbesar penderita utamanya adalah orang Asli Papua (OAP). Mengapa demikian? Alasan mendasar yang perlu kita pahami, yakni banyak OAP memiliki berat badan yang lebih dan tidak ideal lebih khususnya para pejabat baik di pemerintahan, politisi, pengusaha hingga bahkan masyarakat biasa,” tuturnya.

Ketua BEM FK Uncen ini membeberkan secara teoritis, penyakit jantung seperti stroke lebih banyak menyerang kelompok pria dibanding wanita. Khususnya mereka yang memiliki badan (perut) yang berbentuk buah peer dan apel pada wanita.

“Pria dengan bentuk perut buah peer lebih mudah terserang penyakit stroke dan serangan jantung, karena beberapa keadaan seperti tingginya deposit lemak pada daerah perut yang lambat laun akan menyebabkan penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah di jantung. Selanjutnya jika terbentuk plak (Trombus dan emboli) yang pecah akan dibawa oleh aliran darah yang memasuki atau jika melewati sawar darah otak akan menyebabkan stroke iskemik,” jelas pemain Film Cinta Dari Wamena ini.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, kondisi masyarakat di Papua sekarang berada dibawah ancaman penyakit jantung. Sebab banyak perilaku masyarakat yang berubah dari pola hidup di kampung ke kota (Urbanisasi). Juga di antara kalangan masyarakat itu, kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang tidak lagi mobile sebagaimana halnya di kampung, akhirnya menyebabkan besarnya peluang terkena penyakit jantung.

“Jika kita amati beberapa tahun terakhir ini, terdapat beberapa orang penting baik tokoh masyarakat, intelektual dan tokoh adat di Papua diindikasikan meninggal akibat serangan jantung. Mereka adalah seperti, Rektor Universitas Cenderawasih, Alm. Karel Sesa, Kepala Suku Besar Pegunungan Tengah, Alm. Philipus Halitopo, Alm. One Wakur (Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua), Ketua Majelis Rakyat Alm. Agus Alue Alua serta masih banyak masyarakat lainnya,”

beber Lagowan.

Walaupun tidak ada hasil otopsi resmi dari pihak Kedokteran Forensik Rumah Sakit di Papua, kata dia, kematian beberapa tokoh tersebut telah diperkirakan akibat serangan Jantung.

Menyikapi hal ini, pihak keluarga korban tidak dapat berbuat apa-apa, sebab bagi orang Papua yang religius, kematian dan kehidupan adalah takdir yang ditentukan oleh Tuhan, sehingga seringkali tidak ditelusuri sebab musabab kematian seseorang.

Hal ini tentu sangat tidak bisa dibiarkan, sebab negara dan pemerintah hadir, juga perangkat hukum telah ada. Negara melalui pemerintah menjamin kehidupan dan kelangsungan hidup manusia dengan menjunjung tinggi, memberikan keadilan dan kesejahteraan yang merata dan adil bagi segenap bangsa.

Demikian halnya di bidang Hak Asasi Manusia (HAM) untuk hidup. Tidak ada satupun yang boleh membuat seorang manusia meninggal. Oleh sebab itu, seorang warga negara tanpa membedakan asal suku dan latar belakang, status sosial, ekonomi dan agama harus mendapatkan jaminan kepastian hukum dengan melakukan penegakan hukum dan keadilan, secara khusus melalui pelaksanaan otopsi untuk mencari tahu penyebab kematian seseorang.

Salah satu mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Uncen, Chrisoforus Tebai mengatakan, hal demikian terjadi karena belum ada kesadaran dari masyarakat umum untuk berolahraga secara teratur.

“Jadi, untuk menghindari itu kita harus luangkan waktu untuk berolahraga. Seperti senam pagi, jogging, lari pagi atau sore,” kata Christoforus Tebai.

Tebai juga mengajak, menurunkan konsumsi makanan yang berlemak seperti lemak daging babi, sapi, ayam dan lain-lain. Juga, mengurangi konsumsi alkohol, berhenti merokok dan menggantinya dengan berolahraga.

“Jika semua orang melakukan anjuran ini, yakin bahwa ancaman kematian bagi OAP pasti terhindar. Lebih baik kita mencegah daripada kita mengobati,” pungkasnya. (Abeth Abraham You/MS)

Penyakit Stroke Meningkat, OAP Diminta Waspada
Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *