Keluar dari mulut singa, masuk ke mulut buaya. Mungkin ini adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan situasi Papua hari-hari ini. Sebuah negeri elok nan cantik, dilukis oleh tangan Tuhan sendiri di atas sebuah kanvas bernama bumi, digambarkan seperti anggunnya seekor burung cenderawasih, dikaruniai dengan kekayaan alam yang takkan lekang ditelan sang waktu dan terhampar indah dengan berjuta pesona alam yang membuat hati takjub akan keagungan Sang Pencipta.

Tapi sayang, Papua hari ini seperti berada dalam hari-hari ratapan dan perkabungan. Nasib Papua sedang berada dalam sebuah pertaruhan besar.

Tidak ada gunanya bertanya berapa banyak air mata orang Papua yang telah jatuh membasahi, dan menggenangi tiap jengkal tanah Papua. Wilayah yang dikenal sebagai Tanah Injil dan Kanaan bagi dunia, kini meradang. Kering sudah air mata, sekering harapan yang mungkin masih ada, dengan sedikit asa yang tersisa untuk mengobati rasa rindu akan terjadinya perubahan yang entah setelah berjuta purnama lewat, tak jua menjadi kenyataan. Sebaliknya, yang ada adalah orang Papua hidup miskin diatas tanah yang kaya raya. Percuma membandingkan belantara beton pencakar langit di Jakarta dengan belantara asli Papua, sampai-sampai banyak yang menamakan diri mereka hamba Tuhan pun, ogah untuk menjejakkan kaki di Papua, karena situasi yang sangat jauh dari peradaban modern. Tangan-tangan kotor manusia dengan hati yang rakus akan harta, meringsek seperti binatang liar memburu mangsa, ditunggangi oleh nafsu dan ketamakan yang pada gilirannya hanya melukai, menyayat dan menggores dengan sangat dalam jiwa-jiwa murni Papua.

Timika dengan potensi penambangan emas 200 ribu ton perhari, belum terhitung perak, platina, nikel, batu bara, kapur, marmer, kaolin serta batu gamping.

Fak-Fak, dengan hutan perawan yang berdiri kokoh menghuni 80% dari luas wilayahnya dengan jenis kayu-kayu bernilai amat mahal seperti merbau, aghatis, meranti, ketapang dan mersawa. Belum lagi asset laut yang begitu luas, terhampar sejauh 2.292 km2 dengan panjang pantai 484 mil laut yang menyimpan berbagai macam kekayaan laut. Ditambah dengan komoditas cokelat, cengkeh, pala dan kopi.

Sorong yang menyimpan minyak bumi dalam jumlah yang begitu besar, nikel di Pulau Gag, serta kilauan mutiara yang tersimpan dalam perut bumi wilayah Waigeo, Batanta dan Misol.

Merauke dengan kawasan hutan seluas 11.768.265Ha yang masih belum terolah optimal, patung asmat yang saat ini dikenal di seantero dunia, kekayaan laut berupa cumi-cumi, udang, dan juga gabah kering yang produksinya mencapai 14 juta ton pertahun.
Nabire, sebuah kota pesisir dan tuan rumah untuk 1,4 juta hektar Taman Laut Cenderawasih yang menyimpan berbagai spesis laut seperti lumba-lumba, putri duyung, penyu, kura-kura dan ribuan jenis mahkluk laut yang menawan. Belum lagi marmer, pasir kuarsa, kaolin, dan tentunya emas.

Dan tentunya, itu semua belum ditambah dengan keindahan alam Papua yang juga oleh beberapa kalangan sering disebut sebagai Switzerland Asia ataupun Paradise Island.

Lantas ada apa dengan Papua? Kenapa sebagian besar orang Papua saat ini berteriak untuk berpisah dengan Indonesia?

Sebuah luka batin telah bersarang dalam setiap jiwa rakyat Papua selama puluhan tahun, dan hanya ada sedikit yang berusaha dengan hati tulus -sekali lagi dengan hati tulus-, untuk mengobatinya. Paling tidak membangkitkan dan memberikan harapan, untuk mereka bisa menyambut matahari timur dengan senyuman optimis. Kaum pendatang kebanyakan menginjakkan kaki di Papua dengan membonceng kapitalisme modern tanpa memikirkan nasib, apalagi kesejahteraan masyarakat Papua.

Semua misi terselubung yang saat ini di jalankan di Papua, hanya memiliki satu tujuan yaitu untuk mengambil alih tanah Papua dari orang Papua sendiri. Tanpa sadar manusia Papua, sedang dimusnahkan dengan keji. Penyebaran HIV AIDS yang begitu ganas telah membuat Papua sebagai propinsi dengan penderita terbesar penyakit mematikan ini. Berapa banyak yang mengetahui bahwa ratusan pelacur yang telah positif terinfeksi AIDS dari Jawa, dikirimkan dengan sangat sistematis. Untuk apa??

Bagaimana dengan transimgrasi yang dikirim dengan alasan pemerataan penduduk? Sampai tahun 2007 setelah diteliti, tingkat kepadatan penduduk di beberapa kota -Sorong, Manokwari, Nabire, Timika, Jayapura, Arso, Keerom, Timika danWamena- ternyata telah berada pada tingkat yang cukup tinggi. Tapi perhatikan bahwa perbandingan antara penduduk asli Papua dengan pendatang, saat ini lebih didominasi oleh kaum pendatang. Secara sederhana, orang asli Papua sedang tersingkir dan musnah di tanah mereka sendiri.

Peredaran minuman keras dan pelacuran yang marak, menambah kusam potret Papua. Banyak orang Papua yang sengaja dibiarkan mati dengan sangat tidak terhormat oleh hal ini.

Belum lagi cara berpikir dan pola hidup masyarakat Papua yang berhasil dirusak oleh budaya hidup hedonisme. Orang Papua dibodohi dengan mentah-mentah. Memang benar bahwa orang-orang nomor satu seperti walikota, bupati dan gubernur, saat ini masih dijabat oleh putra asli Papua. Tapi coba tengok jajaran dibawahnya. Hampir semua posisi strategis untuk mengambil keputusan dikangkangi oleh orang luar Papua. Jajaran birokrasi Papua yang merupakan putra daerah, dirusak mentalitasnya. Mereka digiring kepada suatu kehidupan yang dijalani dengan penuh rasa bersalah, kepercayaan diri mereka dirusak dan diganti dengan rasa minder yang tidak wajar. Berapa banyak pejabat-pejabat teras seperti bupati yang menjadi pelanggan setia dari bar-bar, diskotik serta panti-panti pijat yang bertebaran di Papua. Setelah terjebak dengan gaya hidup yang rusak seperti itu, kemudian akan datang tudingan bahwa orang Papua tidak bisa dipercaya, tidak memiliki tanggung jawab, rendah dalam kapasitas SDM, dan banyak hal negatif lain yang dicekoki untuk meruntuhkan mental, semangat dan harga diri orang Papua sendiri.

Perhatikan juga dengan seksama banyaknya pertikaian-pertikaian antar suku yang menyebabkan banyak nyawa melayang percuma. Siapa nyana jika dua kepala suku yang betikai ternyata memakai hand phone sebagai alat komunikasi untuk mengatur “jadwal pertempuran” mereka? Mana mungkin suku yang berada jauh di pedalaman bisa menggunakan teknologi canggih ini untuk saling membunuh satu dengan yang lain.

Melihat hal ini, tidak salah jika kita berfikir bahwa skenario besar di balik lika liku Papua adalah sebuah pemusnahan etnis secara masal. Dan ini sedang berlangsung di tanah Papua dengan cara dan sistem yang sangat rapih, sistematis dan terorganisasi.

Status otonomi khusus dan otonomi daerah yang dipropagandakan sama sekali tidak membawa dampak signifikan, kecuali hanya memperkaya beberapa pribadi yang mabuk oleh gelimangan lembaran rupiah yang mereka terima. Anggaran belanja (RAPBD) Papua adalah salah satu yang terbesar di seluruh Indonesia. Tahun berjalan ini, tidak kurang dari RP 17 trilliun telah dikucurkan oleh pemerintah pusat dan akan disusul dengan Rp 24,4 trilliun pada tahun belanja yang baru 2008. Jumlah ini akan jauh lebih membengkak jika kita memasukkan dana-dana segar yang turun dari badan dunia internasional melalui PBB serta LSM asing yang memiliki beban untuk Papua. Mungkin kita akan heran jika bisa mengetahui secara persis berapa banyak uang yang bergulir di Papua setiap tahunnya. Namun apakah dana ini dirasakan oleh orang Papua yang hanya berjumlah dua juta jiwa saja?

Di kota kabupaten Wamena, hanya terdapat satu buah stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) yang menyebabkan orang harus mengantri untuk mendapatkan kurang lebih 20 liter bahan bakar setiap hari. Tidak memiliki gedung sekolah, sekolah yang tidak memiliki guru, tidak ada puskesmas, penyakit menular yang membunuh suku demi suku, sulitnya sarana transportasi karena ketiadaan ruas jalan penghubung, merupakan bagian kecil dari viasco Papua. Coba juga lihat apakah betul bahwa masyarakat Papua telah hidup dalam peradaban modern? Jauh, dan bahkan sangat jauh. Masih ada kanibalisme. Masih ada suku yang tinggal dalam lebatnya belantara Papua. Masih banyak kejanggalan yang jika dilihat pasti akan membuat orang yang masih memiliki hati nurani dan akal sehat berpikir. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi pada sekelompok masyarakat yang hidup diatas tanah yang sangat, sangat, sangat, sangat kaya??

Tidak peduli sebesar apapun uang yang dikucurkan kepada masyarakat Papua, tetap tidak akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Uang, pada kenyataannya menjadi perusak nomor satu mental-mental rakyat Papua yang memang belum siap untuk menerima kucuran dana sebanyak itu. Uang juga yang pada akhirnya membuat banyak mata menjadi buta, banyak nurani yang menjadi tumpul, dan banyak kasih yang menjadi tawar. Tidak ada gunanya menggelontorkan triliunan rupiah kepada rakyat Papua tanpa mendidik, melengkapi, mengayomi, melatih, dan membangkitkan mereka. Ibarat orang tua yang sangat kaya yang terus menerus memanjakan anak nya dengan uang dan kemewahan, namun kemudian memakan buah simalakama ketika anaknya secara perlahan tapi pasti, mati dan binasa. Ketika kita mendengarkan dengan seksama jeritan hati dari saudara-saudara kita di timur ini, bukanlah berteriak meminta uang kepada siapapun. Apa yang mereka minta hanyalah sebuah perhatian, kasih sayang, hati yang tulus, tangan yang bersih, penerimaan serta pengakuan bahwa mereka juga adalah bagian dari kita. Dan yang terpenting adalah, Papua membutuhkan figur seorang Bapa yang menjadi teladan, dan panutan yang mengayomi mereka dengan kasih yang tulus –sebuah kasih Agape-.

Kasih semacam ini sudah barang tentu tidak bisa diharapkan dari dunia disekeliling kita yang sudah terlanjur rusak. Satu-satunya harapan terletak di atas pundak gereja Tuhan. Sudah waktunya gereja tidak lagi melihat diri sendiri dan sibuk dengan program masing-masing. Sebaliknya, kenapa tidak mulai untuk menyingsingkan lengan dan melakukan sesuatu untuk Papua. Tidak hanya pandai mengumbar teori, kalkulasi, prediksi dan berbagai tetek bengek lainnya yang kebanyakan menjadi mentah di atas meja-meja rapat pengurus. Sementara saudara-saudara kita di Timur berada pada persimpangan jalan, baiknya gereja Tuhan untuk mulai bercermin apa yang sudah dilakukan. Ada banyak organisasi kristen dan mungkin juga gereja yang saat ini menggarap Papua. Namun kenyataannya, tetap saja motivasi untuk mendapat keuntungan dari tanah Papua masih menjadi bayang-bayang setiap kegiatan yang mereka lakukan. Orang Papua membutuhkan manusia-manusia yang datang dengan hati yang benar-benar ingin membangun Papua secara bersama-sama tanpa ada agenda-agenda terselubung.

Figur seorang bapa, harus segera dikembalikan kepada rakyat Papua jika kita tidak ingin mereka menjadi semakin bingung dan pada akhirnya menjadi terombang ambing dengan berbagai angin pengajaran, yang saat ini gencar berhembus di Papua. Status sebagai Tanah Injil harus kembali direbut, supremasi Injil atas Papua harus kembali ditegakkan. Tidak ada yang bisa menyelamatkan Papua selain Injil Kristus. Wilayah Papua sudah cukup hijau dengan keindahan panorama yang Tuhan berikan. Tidak perlu lagi ditambah dengan “hijau-hijau” yang lain.

Seorang pahlawan nasional, Sam Ratulangie, pernah berkata Sitou Timou Tumou Tou. Artinya manusia lahir untuk memanusiakan manusia yang lain. Inilah yang harus kita lakukan di Papua. Membangun manusia-manusia Papua. Beragam stigma yang melekat pada diri orang Papua seperti malas, suka mabuk, boros, dan yang lainnya hanya bisa dirubah dengan kasih Tuhan Yesus. Roh Kuduslah yang akan bekerja untuk mengubah hati-hati Papua. Namun jika kita hanya tinggal di daerah nyaman masing-masing, lantas apa yang akan diharapkan. Apakah kita hanya akan menonton saja ketika mereka yang berpakaian “serba putih”, berlabuh di Papua dan kemudian menundukkan wilayah Papua. Ada banyak talenta yang Tuhan taruh di dalam hidup orang Papua. Hanya saja, saat ini tidak ada yang membantu mereka untuk mengeksplorasi berjuta potensi yang ada dalam diri mereka masing-masing. Seperti halnya tanah Papua yang kaya raya, demikian juga dengan putra putri Papua yang kaya dengan banyak talenta.

Orang Papua memang berbeda dalam penampilan. Dengan kulit hitam dan rambut keriting yang menjadi ciri dari ras Melanesia, mereka adalah mutiara-mutiara hitam dari timur yang harus diberdayakan sehingga akan tampil berkilau untuk menyinari dunia disekelilingnya. Tentunya kita tidak ingin bahwa ras Melanesia yang Tuhan anugerahkan kepada bangsa Indonesia sebagai bagian dari keragaman yang menjadi ciri bangsa ini, dimasa depan hanya akan tinggal kenangan. Biarlah orang Papua menjadi tuan rumah di tanah mereka sendiri.

Mulailah mengalihkan pandangan kita ke ujung timur. Harapan tidak muncul diwaktu senja ketika matahari terbenam di barat, harapan akan selalu muncul seiring dengan terbitnya sang surya…. di ufuk timur !!

Posted: March 21, 2013 in Uncategorized, Karya Samuel Karwur

 

Artikel Serupa/ Lanjutan:

  1. Praktek Hukum Indonesia Untuk memusnakan Ras Melanesia di Papua Barat
PAPUA, “Hilangnya Ras Melanesia?”
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *